Home

Postingan di blog pertama di 2012, hahaha… abaikan.

Awalnya pas saya liat situs milik sendiri kok bingung, saya kan berlatar belakang desain komunikasi visual, tapi kok malah seringan nulis yah, apalagi belakangan ini lebih banyak nulis yang berbau religi. Aneh memang, tapi kembali lagi sebuah pesan yang saya ingat, “menuntut ilmu agama itu fardhu ain, sedangkan ilmu lain itu fardhu kifayah” kalo di dunia ini gada yg belajar desain baru deh dosa semua, xixi. Tapi memang hal ini menjadi intropeksi saya ke depan, bahwa mudah-mudahan porsi content yang ada di situs ini bisa lebih seimbang antara profesi saya dan yang berbau religi, Amin.

Kali ini saya membahas mengenai acara yang berlangsung di Masjid BI ketika pergantian tahun masehi 2011 ke 2012. Acara ini tidak bermaksud merayakan pergantian tahun, hanya sebagai alternatif acara selain tiup terompet dan bermacet-macetan di jalan, selama tidak dijadikan “keharusan” maka acara ini tidak melanggar syar’i kok (kata salah satu nara sumber di acara ini pun demikian). Tema yang diangkat adalah syahadat, yang setiap muslim membacanya ketika shalat, dimana salah satu point dari rukun islam.

Sehabis Isha acara dimulai, dan yang menjadi pemateri pertama adalah: Ust. Muhsinin Fauzi, Lc. Beliau adalah Pimpinan Majelis Formula Hati. Awalnya saya membayangkan Ust. ini memiliki karakter yang keras, karena melihat alisnya yang tebal, dan tatapannya yang tajam, namun ketika beliau mulai berbicara ternyata lucuuuuu, hehe. Sebelum membahas syahadat, beliau berbicara mengenai iman, karena keduanya berkaitan erat. IMAN = TERHUJAM DALAM HATI. orang yang sekedar berbicara, namun tidak terhujam di hati bisa dikatakan munafik, jika dihubungkan dengan era sekarang, lebih populer dibilang gombal.

Ketika mulai membahas syahadat, beliau sempat bercerita mengenai Abu Jahal, paman Rasullullah SAW. Dulu Rasul sempat bertanya kenapa pamannya itu, kenapa enggan mengucap syahadat? Ternyata pamannya itu tahu tentang syahadat dan konsekuensinya, maka ia tidak akan mengucapkannya. Ini pelajaran yang bisa dipetik dari Abu Jahal, ia tahu konsekuensinya. Kemudian Ust. Muhsinin menjabarkan sedikit mengenai kalimat Asy hadu (awalan syahadat) secara literatur yang berarti bersaksi, bahkan bersumpah. Banyak orang-orang terdahulu yang dengan syahadat mampu merubah hidupnya, karena mereka memiliki kesadaran, ilmu, keyakinan ketika mengucapkannya, bahkan ada beberapa yang hanya sekali mengucapkannya namun langsung berubah. Nah kenapa sebagian besar dari kita sering mengucapkannya namun tidak kunjung berubah?

Kenapa sebagian besar dari kita sering mengucapkannya namun tidak kunjung berubah?

Menurut Ust. Muhsinin, hal yang disayangkan di negara kita itu, sebagian besar terlalu mudah menjadi muslim, “ceproottt, keluar dari perut ibunya sudah muslim” jadi kurang memaknai syahadat yang pernah diucapkan. Jika membayangkan artinya saja, saya jadi berfikir kembali, “Saya bersumpah, tiada Tuhan selain Allah”. Jika saya beraktifitas sering kali menuhankan yang lain, harta, kedudukan, wanita, atasan, klien.. dll, Astagfirullah (ampuni aku, ya Allah), jika masih suka melanggar sumpahku sendiri, Subhanallah (Maha Suci Allah). Mudah-mudahan kita (saya dan yang membaca postingan ini) bisa saling mengingatkan jika melanggar sumpah kita sendiri, Insya Allah, Amin….

Pemateri kedua yaitu, Ust. Salim A Fillah, beliau penulis buku yang sangat produktif dan lumayan populer, selain itu pengurus Majelis Jejak Nabi, klik disini ajah biar tau lengkapnya. Ketika sebelum memulai, beliau membagi materinya menjadi 5, yaitu: ilmu, perpisahan, kebersamaan, perlombaan, dan dakwah. Kok dibagi 5? saya juga gatau pasti, tanya ajah ke beliau langsung, hehe… tapi asumsi saya sih, karena beliau penulis, dan memiliki latar belakang psikologi, pembagian ini untuk memudahkan audience mencerna pesan yang disampaikan.

Sosok beliau ini memang dasyat dalam bercerita, jika saya membayangkan, otak beliau ini seperti super komputer yang menyimpan data banyak, dan rapih, kemudian data tersebut dikeluarkan sesuai kebutuhan presentasi. Belum lagi intonasi dan nadanya itu pas cerita bisa enak didenger, ga nyangka audience yang ada disana sebagian besar masih fokus mendengarkan beliau, padahal pemateri sebelumnya sudah sangat berbobot dan menarik dalam menyampaikannya. Jujur, saya di sana seperti anak kecil yang sedang didongengkan, kadang mata menjadi berkaca-kaca, kemudian tiba-tiba tertawa, menyimak serius lagi, lalu kaget dengan nada tingginya. Emosi yang dirasakan oleh Ust. Salim bisa menular ke audiencenya.

Okeh, dimulai dengan tahap 1, yaitu ilmu. Seperti yang disampaikan oleh Ust. sebelumnya, bahwa ilmu dan kesadaran diperlukan dalam memaknai syahadat. Bahkan ayat yang pertama yang diturunkan adalah “Iqro” (bacalah atas nama Tuhanmu). beliau menceritakan beberapa kisah yang dialami Rasul-rasul terdahulu

Tahap 2 perpisahan, tidak sedikit karena memaknai syahadat maka terjadilah perpisahan, seperti kisah Nabi Musa, setelah berhasil selamat dari kejaran Firaun di laut merah, namun kaumnya tersebut mejadi kafir kembali karena menyembah Sapi emas yang berbunyi. Belum lagi Nabi Ibrahim yang harus meninggalkan istrinya di tengah tandus, kemudian Siti Hajar mondar-mandir hingga 7x, dan keluarlah air zamzam

Tahap 3 kebersamaan, lupa… wkwkwk, afwan, ga dicatet sih

Tahap 4 perlombaan, disini sempat diceritakan misal ada lomba lari mengitari monas, kemudian ada orang yang tiba-tiba tanpa mendaftar langsung ikut berlari dan kemudian berhasil menyusul para peserta hingga finish, nah apakah orang tersebut bisa dinyatakan sebagai pemenang? cerita tersebut diibaratkan dengan orang yang tidak mengucapkan syahadat (non muslim) kemudian ia berbuat baik, nah syahadat itu ibarat daftar perlombaan itu. Kemudian diceritakan juga mengenai kisah Abu Bakar ketika malamnya baru pulang dari perang, dan paginya bertemu Rasul ketika shalat shubuh bersama, lalu Rasul bertanya kepada Abu Bakar dan beberapa orang disana, siapa yang hari ini sempat shalat Qilamullail, ternyata hanya abu bakar yang melaksanakannya, dan pertanyaan kedua, siapa yang hari ini sempat menjenguk orang sakit? Ternyata Abu Bakar juga sempat, kemudian pertanyaan berikutnya, siapa yang sempat datang ke pemakaman? Abu Bakar masih sempat juga, pertanyaan berikutnya, siapa yang sempat menyantuni anak yatim? Abu Bakar ketika datang ke pemakaman, mengurus jenazah, beliau memberikan beberapa hartanya untuk anak yang ditinggalkannya selama 1 bulan. lalu pertanyaan berikutnya, siapa yang sempat menyantuni fakir? dan Abu Bakar lagi-lagi ketika berangkat Shubuh sempat membawa makanan, dan membagikannya kepada orang yang ditemuinya di jalan. Memang jika urusan amal, semua sahabat Rasul mengakui bahwa Abu Bakar sangat memaknai syahadat, jika pintu surga dibagi jadi beberapa bagian, ada pintu sedekah, pintu shalat, pintu ….. (lupa juga, haha), maka kata Rasul, Abu Bakar bisa masuk dari semua pintu tersebut.

Tahap 5 yaitu dakwah, Disini Ust. Salim menceritakan mengenai Imam Syafi’i yang ketika berumur 13 tahun sudah memiliki 3000 jamaah bersyurban, kemudian sempat ada celetukan menarik, jika kita berdakwah harus melakukan terlebih dahulu hal yang kita sampaikan, coba tanya muadzin, apakah dia ketika melantunkan adzan sudah sholat? padahal dia mengajak sholat lho… hehe.

Jika ada organisasi yang mengedepankan kepentingan organisasinya dan melanggar syar’i, maka perlu dicek lagi, apakah menuhankan organisasinya atau Allah (perkataan ini terlontar ketika ada yg bertanya). Kemudian jika memang bisa berdakwah dengan 1 pemimpin maka itu lebih baik, namun jika berbeda bendera namun masih satu tujuan itu masih baik, jika memang belum bisa, maka perorangan tidak apa-apa (berlomba-lombalah dalam hal kebaikan). Ini pun jawaban dari salah satu penanya.

Alhamdulillah saya bisa diberikan jalan oleh Allah bisa tahun baruan di Masjid BI, dan mendapatkan pencerahan yang menjadi makanan rohani saya. Dan senangnya melihat masjid penuh (keliatan di poto, itu msh di luar, dalemnya lbh puenuh, walaupun lg pd tidur, xixi).

Mudah2an sumpahnya inget trus yah….

CM

One thought on “Memaknai syahadat kita @Masjid BI-Mabit

  1. Chan.. sedikit menambahkan, point ke-3 tentang kebersamaan itu kisahnya Siti Hajar (bukan ada di point ke-2😀 ). Siti Hajar rela ditinggalkan di gurun tandus, karena yakin ada Alloh bersamanya. Tapi rasa bersama Alloh tidak serta merta meninggalkan ikhtiar, ini dibuktikan dengan peristiwa sa’i.
    Kalo point ke-2 itu salah satunya itu kisahnya Ustman bin Affan, yang rela melepaskan (berpisah) dari jaminan perlindungan pamannya atas keislamannya setelah mengetahui banyak saudara seimannya yang mendapatkan siksa dari kaum kafir quraisy. Selain itu, kisah syu’aib yang rela berpisah dengan harta bendanya demi hijrah bersama Rosul. Wallahu’alam.
    Overall is good, lanjutkan.. ditunggu catatan berikutnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s