Home

Setelah beberapa lama tidak konsisten dalam menulis blog ini, akhirnya malam ini dimulai kembali dengan bahasan mengenai tenang. Beberapa hari yang lalu saya shalat jumat di masjid Al-Izhar Pondok labu, kemudian khutbahnya membahas mengenai senang dan tenang. Menurut ust. yang mengisi ceramah tersebut, orang yang tenang sudah pasti senang, namun orang yang senang belum tentu tenang. Tenang itu dapat terjadi jika kita mampu memenuhi kebutuhan ruh kita, bukan sekedar jasmani saja. Sebagian besar dari kita lebih mementingkan kebutuhan jasmani, misal masih banyak rekan-rekan kita yang seagama (ikhwan), di luar sana masih berlalu lalang mengejar kebutuhan jasmaninya (bukannya shalat jumat). Kita tentu ingin memenuhi kebutuhan jasmani kita dengan kebutuhan gizi yang mumpuni, namun apakah kita melakukan hal itu dengan ruh kita?

Beliau memberi contoh jika orang yang pergi ke tempat yang jauh dari keramaian, misal pergi ke puncak untuk bersenang-senang dengan cara bermain kartu, atau bermabuk-mabukkan sambil tertawa dengan teman-temannya, tindakan seperti itu membuat mereka senang, namun tidak memberikan ketenangan. Namun jika ke puncak, lalu melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan juga tadarusan, mereka itulah yang mendapat ketenangan. Lalu bagaimana jika sebuah pasangan suami-istri atau calon suami istri yang dalam proses menjalaninya tidak mendapat ketenangan antar pasangannya, apakah ada hubungannya dengan kebutuhan ruh/ukhrowinya?

Memang tenang itu urusan hati, siapa yg bisa menebak hati seseorang, namun menurut saya sih ada hubungannya dengan “memenuhi kebutuhan ruh”. Jika di antara pasangan tersebut salah satu atau keduanya tidak merasa tenang, kemungkinan besar salah satu/keduanya kurang dalam memenuhi kebutuhan ruhnya. Fokus hubungan yang mereka kejar hanya bersifat jasmani. Lalu bagaimana membuat pasangan kita tenang? (hehe… kyak yg punya pasangan ajah) hmm…. saya pernah mendengar bahwa sangat menguras tenaga, pikiran, dan waktu untuk merubah orang lain, dan belum tentu berhasil, namun jika kita merubah diri kita sendiri, orang lain akan lebih mudah meniru/mentauladani kita. Jadi jika ingin membuat orang lain/pasangan tenang, buatlah diri kita tenang terlebih dahulu.

Lalu apa saja kebutuhan/makanan ruh kita?

CM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s