Home

Setiap hari saja sudah buanyak sekali cerita yg ingin ditulis di blog ini, namun apa daya, rasa “ntar-ntar” selalu menggerogoti pikiranku. Hingga akhirnya sekarang “dipaksa” untuk menekan keyboard, dan membiarkan mengalir. Hmm… ada obrolan seru seputar judul diatas, beberapa minggu kemarin saya bertemu dengan teman lama di daerah Jakarta Pusat, kami berbicara dari mulai persoalan personal hingga bisnis. Temanku yg satu ini secara karir saat ini sedang stabil, kemudian ia bercerita tentang pengalamannya, ketika belum lama lulus dari kuliah lalu bekerja dan memutuskan berhenti dari tempat kerjanya, ia merasa saat itu sangat butuh pertolonganNya, sambil mencari pekerjaan barunya, ia tak lupa untuk berdoa, baik dgn cara solat dhuha, maupun shalat tahajud di sepertiga malam. Hal tersebut ia lakukan secara rutin, hingga akhirnya ia pun diterima di salah satu departemen pemerintahan.

Kemudian ketika pembicaraan kami sedikit menjurus mengenai spiritual, dia tersadar dengan sendirinya, “iya yah jd inget dulu ketika lg butuh, gw rajin meminta kepadaNya, tapi sekarang ketika sudah enak, dan sebagian besar keinginan gw terpenuhi, gw malah lupa denganNya, kesannya udah ga butuh lg, dan gada yg dipinta lg”. Ucapannya sederhana, namun banyak diantara kita, termasuk saya pun pernah mengalami hal tersebut. Jika bercermin sesaat, hampir sebagian besar doa setelah solat saya berisi permintaan/permohonan, pengen ini-itu, memang ga salah meminta padaNya, namun sedikit sekali yang kalimatnya bersyukur, baik itu memujiNya, atau berterimakasih padaNya. Saya mencoba googling bagaimana cara bersyukur, dan ternyata bersyukur dikatagorikan menjadi 3, oiya nemunya disini: http://dtpoetri11.multiply.com

Ayat yg mengemukakan tentang bersyukur antara lain: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”  (QS 25:61-62) ”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 16: 18).

Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.

Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah.
Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya

Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca lailahaillallah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdulillah, maka baginya 30 kebaikan.”

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS 93: 11).

Hati, lisan, dan perbuatan…. Bahkan obat stres yg bisa membuat kita tentram, damai, tenang, dan bahagia adalah bersyukur, karena apapun yg sudah terjadi adalah yg TERBAIK untuk kita dariNya (QS 2: 216). Tugas kita adalah berfikir dan bertindak setelah mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Jadi inget sebuah puisi, bukan karena kamu, bukan karena cinta, tapi karena aku butuh kamu, hmm… kamu di kata terakhir sepertinya huruf besar “KAMU” atau di ganti jadi Allah SWT sekalian🙂

CM

http://www.chandramarwanto.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s