Home

Materi ini berasal dari acara halal bihalal Daarut Tauhid Jakarta yang diselenggarakan di Aula Buya Hamka Al-Azhar Kebayoran Baru, acara dimeriahkan dengan Opick juga. Ketika Aa mulai naik keatas panggung, beliau mengawali dengan doa, lalu bercerita dengan lukisan kuda, banyak orang yg memuji pelukisnya ketika melihat hasil lukisan tersebut, namun kenapa tidak banyak yg memuji pencipta kuda, ketika melihat kudanya langsung. Ternyata ada namanya hijab dgn Sang pencipta.

Sebelum melanjutkan materi, Aa sempat mengenalkan sejarah Daarut Tauhid di Jakarta dengan singkat, dan salah seorang sahabat Aa ketika duduk di bangku SD dipanggil ke atas panggung, beliau adalah teman SD sekaligus orang yg membantu Aa memulai dakwah di Jakarta, pertama kali di salah satu ruko di Pondok Indah. Setelah itu beliau juga yg berusaha keras agar Aa bisa berdakwah di Al-Azhar, dan ternyata berhasil, dimulai di lapangan basket Al-Azhar, hingga akhirnya Aa rutin mengisi di ruangan masjidnya. Dan halal bi halal ini adalah kedatangan pertama kali Aa setelah beberapa tahun sudah tidak ke Al-Azhar lg.

Kemudian Aa pun melanjutkan materinya, ternyata yg membuat hijab dengan Allah adalah kata “merasa”, oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan “merasa”. Lalu Aa sharing mengenai masa lalunya, ketika dahulu memiliki jamaah yg luar biasa banyaknya (khususnya ibu2), dan ketika kasus poligami muncul, bukan hanya citra Aa yg menurun, melainkan banyak bisnisnya pun yg ikut turun, bahkan Aa sempat nyeletuk “mantab=makan tabungan” hehe…. berdasarkan kejadian ini, Aa sangat bersyukur sekali, karena ketika semakin tinggi jabatan, semakin banyak dihormati orang, sebagian besar dari kita akan “merasa” tinggi (ilustrasinya seakan-akan kita terbang, lupa menginjak bumi) dan ketika hal itu terjadi, hijab semakin jauh dari Allah, dan untuk menurunkannya sangat sulit, bahkan ibadah menjadi kurang khusuk.

harus berhati-hati dengan “merasa”

Ketika pendidikan kita makin tinggi, seringkali kita “merasa” pintar, menganggap orang lain yg pendidikannya lebih rendah dari kita itu bodoh. Begitupun ketika kita berada di mobil mewah, maka akan “merasa” lebih dibandingkan yg berada di angkutan umum. Semakin sering kita “merasa” maka akan semakin tebal hijab kita, bahkan cinta kita kepada seseorang pun bisa menjadi hijab, pdhl seharusnya kita takut jika kehilangan cinta Allah.

Begitupun dengan barang/benda mati bisa menjadi hijab, barangnya sih netral, hanya hati kita yg dikaitkan dengan barang tersebut yg tidak membuat netral. Seringkali kita malah menuhankan benda tersebut. Jangan pernah berhenti menekan hijab, tekan diri kita hingga di bawah (Aa sambil bersuara wushh… wushh.. wushhh, dan tangannya bergerak menekan ke bawah). Kita ini hanya orang miskin yang dititipi oleh Allah, kapanpun Allah bisa mengambilnya jika mau. Aa tidak melarang untuk memiliki barang bermerk, toh merk itu kan kualitas, hanya saja sedekahnya juga harus banyak.

Menjadi orang yg “tidak merasa” itu enak, posisikan diri kita hanya sebagai hamba Allah.

————————-

Nah sekarang saatnya narcis🙂, mudah2an ketika nulis ini ga “merasa” ingin diberi simpati oleh orang atau menuhankan pencitraan, InsyaAllah karena saya doyan cerita, mudah2an cerita ini bs jd sedekah🙂, okeh saatnya merefleksikannya dengan kehidupan saya sehari-hari dengan tema materi aa gym ini.

Hmm.. wah berarti hijab saya sudah berlapis-lapis nih, secara sudah tak terhitung saya “merasa”, sebut saja ketika dahulu membeli ipod, saya dengan pedenya memakai sendal japit dan celana pendek, datang ke distributor apple, ketika masuk, ditanya juga nggak sm penjaganya (mungkin diendus jg ngga, hehe), tapi dengan “merasa punya duit” apalagi duit hasil kerja sendiri sewaktu di bangku kuliah, dengan pedenya, “mba, ipod nano dong”, keluarlah duit 1,5jt dalam sekejap, dan ketika menggunakannya saya “merasa bergaya/up2date, merasa kaya, merasa bs nyari duit sendiri walaupun msh kuliah” wah… satu benda ajah merasanya udah buanyak. Belum lagi ketika membeli hp komunikator, ga beda jauh deh sm sebelumnya. Bener2 saat itu hijabnya parah…. ga mikir kl semua itu sebenarnya bukan milik saya.

Kemudian ketika baru lulus kuliah S1 pun demikian, saya “merasa sudah pintar”, ketika bertemu dengan teman yg masih kuliah, seakan-akan “merasa hebat” sok ngajarin, sok ngasitahu. mana mikir kl hal yg diraih ini atas kehendakNya. Kl Allah berkehendak membuat otak ini hilang ingatan atau gila, gmn tuh… tp saat itu bersyukur juga jarang, bener2 tebel bgt hijabnya. Begitupun ketika memulai usaha, ketika menjadi founder PT. xxxx, saya “merasa sudah diatas” ketika melihat teman seumuran, apalagi ketika sudah memiliki beberapa karyawan.

Nah, yg ga kalah parah hijabnya ketika baru memulai mengaji, ketika dapet ilmu agama sedikit… ternyata “sudah merasa anak pengajian nih” ketika di pengajiannya sih diem, msh minder🙂, tp ketika diluar pengajian, ktemu dengan teman lama, ada yg ga sreg dkit, kluar deh kata2 sok bijak, kl niatnya menolong sahabat seiman sih gpp, nah terkadang “merasa sudah lbh ngerti agama” ituh yg gawat. Belum lagi pas sudah mengenal wanita, dan berhasil melamar… wah ini juga ternyata masih ada hijab yg berlapis, banyak bgt “merasa paling benar dan baik”, “merasa paling sayang”, merasa ….. buanyak deh😦

Di tahun 2011 ini, kun fayakun, Allah berkehendak, dan saya sangat bersyukuuuuurrrr bgt999x, ketika perusahaan bubar, punya hutang, pernikahan batal, ipod rusak, bb juga rusak, terus ngedenger ceramah aa gym, nah baru deh ngerasa kesentil, ketampar malah, hehe… ternyata “merasa” ini masih membayangi saya, sekarang benar-benar terkondisikan, saya hanya hamba Allah, dan semua yg saya miliki adalah titipan (semua kembali padaNya).

Berarti doa saya nambah nih, “ya Allah, jika hamba diberi Engkau amanah, baik itu benda, jabatan, dll… berilah hamba kekuatan untuk menekan hingga paling bawah, jika hamba tidak kuat menekan, lepaskanlah agar hamba tidak merasa (memiliki, paling baik, paling pintar, paling kaya, dll….) dan agar hijab terhadapMu tdk berlapis, dan mampu semakin dekat dgnMu” Amin…

Siap2x kl udah muncul gejala “merasa” langsung istigfar, berfikir ulang, bener gak nih karena Allah… semoga mampu istiqomah, amin…

CM

https://chandramarwanto.wordpress.com
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s