Home

Berat sebenarnya menulis dengan tema ini, karena antara tulisan harus sinkron dengan perbuatan dan hati, jika tidak malah dikira munafik lagi, hmm… tapi daripada tidak menulis sama sekali malah salah. Okeh deh akan saya mulai….

Sakit hati…. hmm, secara pribadi saya pernah merasakan hal ini dari kecil, sebut saja ketika kita meminta dibelikan mainan, lalu tidak dituruti oleh orang tua, maka kita akan merengek, bahkan menangis keras… menurut saya itu bisa dibilang sakit hati. Kemudian beranjak di bangku sekolah dasar dan menengah, ketika sudah berurusan dengan pelajaran, dan bertemu dengan beragam jenis orang, tingkatan sakit hatinya pun berbeda, sakit hati dengan guru karena telah menghukum saya, sakit hati dengan teman karena mengerjai/mengatai saya, dll… Di tingkat remaja awal hingga akhir (seperti saya yg saat ini berusia 27 tahun) sakit hati meningkat lagi terhadap hal yg lebih kompleks yaitu relationship dan karir. Bahkan setelah nikah pun sakit hati bakal tetap ada (berharap kl saya pribadi gada, amin)

Lalu apakah ada yg salah dengan sakit hati? hmm… menurut saya, sakit itu kan pengertiannya persepsi seseorang jika kesehatannya terganggu (wikipedia), nah berarti inti dari sakit itu adalah persepsi. Persepsi itu tergantung dari orangnya, situasinya, dan perilakunya (Brems & Kassin). Nah… jika sakit hati yg dirasakan seseorang telah mengganggu orang lain, bahkan menyakiti orang lain, itu baru dikatakan salah.

Nah terus yg salah, benerinnya gmn dong? saya bukan guru, bukan juga dokter, tapi saya hanya orang yg diberi memori yg lumayan oleh pencipta saya, sehingga saya bisa menyimpan kisah2 hidup saya dan menuliskannya disini. Jika dilihat dari 3 elemen diatas, orangnya, situasinya, dan perilakunya, ternyata sumber utamanya adalah di orang… Situasi itu kan butuh kemampuan lebih untuk merubah seperti yg kita inginkan, contoh membuat keadaan sekitar ramai, dengan berkunjung/dikunjungi teman/sahabat kita, dan situasi ini sifatnya ga permanen, kemudian perilaku itu terbentuk dari orangnya, kalo orangnya udah bener biasanya perilakunya bakal bener jg. nah benerin orangnya gmn?

Mungkin kalo dari segi psikologi populer, seperti the secret, semua itu terletak di pikiran, pilihan terjadi karena pikiran kita, kalo kita mikir ga sakit, yaudah jadinya ga sakit. Nah… kalo untuk wanita gimana, secara emosional wanita lebih besar dibandingkan logika/pikirannya., ini dia yg masih sulit diimplementasikan. Tapi jika patokannya dari agama, kl dari agama yg saya anut dan yakini sih Islam. Nah kalo di islam itu ada yg namanya akidah, keyakinan kita sama Allah. menurut saya dengan ini bisa diperbaiki, dalam kasus ini yaitu meyakini Allah melalui firmannya (Al-Quran).

Dalam agama Islam kan ada namanya ketetapan, dimana hal itu sudah terjadi dan merupakan skenario Allah. kita sebagai manusia gabisa dong ngerubah yg udah terjadi, emang waktu bisa diputer balik. Sakit hati itu kan terjadi karena persepsi kita tidak sesuai dengan yg kita inginkan/rencanakan. Kekecewaan yg muncul akibat hal tersebut membuat kita sakit hati. Ketika sedang sakit hati sebagian besar dari kita banyak yg menyalahkan orang lain, dan sebagian menyalahkan diri sendiri. Bahayanya pemikiran/tindakan menyalahkan itu membuat diri kita/orang lain dirugikan, menyalahkan diri sendiri dan intropeksi itu beda, tipis sih…, kl intropeksi itu lebih positif, tidak berlarut dengan masalah, berhasil mengambil hikmah, dan langsung melangkah ke depan, sedangkan menyalahkan itu jatuhnya menghukum diri sendiri, dan biasanya bersifat merusak.

Dengan kita meyakini firman Allah yg ada di dalam Al-Quran, misal surat Al-Baqarah 216 mengenai Allah lebih tau yg kita butuhkan, dan Dia maha mengetahui, sedangkan kita tidak. Kemudian di Al-Baqarah 286, mengenai Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan kita. Nah dari dua surat itu ajah erat hubungannya dengan sakit hati. Sakit hati itu kan terjadi karena sebuah kejadian di masa lampau, dan kejadian tersebut sudah skenario Allah (harus diyakini demikian), banyak kejadian masa lampau yg selalu dianggap itu salah kita, atau salah dia, atau salah keadaan, nah terus Allah nya dimana dong? bukankah kejadian masa lampau itu ujian untuk kita…. point yg pertama dan sering bikin kita sakit hati yah itu, yg terjadi bukan skenario Allah, tapi akibat tindakan kita, lingkungan kita. Sehingga lupa ada Allah di kejadian tersebut.

Point berikutnya setelah kita yakin bahwa kejadian dimasa lampau adalah skenario Allah, barulah kita melihat surat diatas, bahwa Allah lebih tahu apa yg kita butuh, jika rencana/keinginan kita tercapai pasti kedepannya bikin kita malah ancur…. (ini dia yg dimaksud harus selalu husnudzon ke Allah) dan ketika kita berfikir kok berat banget yah, di surat selanjutnya kan dibahas, ga mungkin ini diluar kemampuan kita, apalagi kalo doa kita setiap hari ingin diberi hidayah, diberi kekuatan…. nah berarti doa kita lagi dikabulin dong. Masa doa kita yg dirubah, malah ntr kita jadi orang yg lemah. Ketika pikiran kita sudah kearah sana, persepsi kita mengenai kejadian tersebut menjadi positif, logikanya sih bukannya sakit hati, malah bersyukur banget sama Allah, dan orang lain/situasi yg membuat ini terjadi, bukan menyalahkan.

Jadi apakah salah jika orang yg beriman itu sakit hati? menurut saya sih salah, yg bener itu orang beriman selalu bersyukur.

wah…. berarti kl ada yg baca tulisan ini, terus ngeliat saya sakit hati, gawat nih, bisa jadi boomerang, hmm… tapi bukannya ketika boomerang itu mengenai saya, saya malah menjadi on the track lagi, dan yg menegur saya itu adalah sahabat saya, yg tidak ingin menjadikan saya orang yg munafik. amin…

CM

http://www.chandramarwanto.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s