Home

Hari ini terjadi lagi, perbedaan waktu lebaran di negara saya, dan kejadian ini pernah saya tanyakan tahun lalu ketika sedang mengaji di YISC Al Azhar Kebayoran Baru,  saat itu pembahasannya mengenai ijma dan qiyas  (hukum islam selain Al Quran dan Hadist). Kemudian pertanyaan saya begini: “Pak Ust, boleh ga, kalo saya pas lebaran itu nyari yang paling cepet/duluan?” Bisa ajah ngikutin Muhammadiyah, atau NU, atau Pemerintah, seperti kl mau buka puasa nyari adzan yg paling cepet🙂 …..bukannya  islam kan memudahkan umatnya?

Kemudian beliau menjawabnya, diawali dengan memberi pengertian sedikit mengenai ijma (ketetapan), dimana ijma dihasilkan dari para pakar di bidangnya, para pemuka agama, dan pemimpin/pemberi keputusan. Lalu beliau pun menjelaskan mengenai imam. Yang saya tangkap imam disini seperti murabbi, disaat zaman Rasul SAW dan sahabatnya dulu, kenapa sebuah negara/kaum menjadi kuat, karena masing-masing umatnya memiliki imam, yang fungsinya bukan sekedar menjadi pihak ke-3 dalam mencari jodoh, melainkan mampu membantu memberikan solusi, dan masing-masing imam mengenali jamaahnya, sehingga jika terjadi sesuatu akan mudah dalam proses identifikasinya.

Nah jika terjadi kebingungan mana lebaran yg harus dipilih, lebih baik mengikuti pemerintah, kedepannya kalian dapat belajar mencari imam yang sesuai dengan kalian, dan jika terjadi permasalahan ini kembali, kalian bisa menanyakan ke imam kalian.

Ow bgono ternyata…. iya juga sih, secara kalo saya ikut Muhammadiyah, atau jenis yg lain, toh saya belum mengerti secara terperinci, apakah Muhammdiyah itu hanya sekedar solat subuh ga pake qunut dan tarawih 8 rakaat, atau ada hal-hal lain yang lebih terperinci, hmm… kedepannya saya bakal caritahu lagi mana yg sesuai dengan saya.

Yang penting jangan jadi islam semau saya ajah, itu juga yg digaris bawahi sama pak ust, bahaya jika kita memilih lebaran dengan alasan yg paling cepet, itu tandanya kita hanya menerima ajaran islam yg sesuai dengan ego kita, yg tidak sesuai bakal dikesampingkan. Agama islam memang mempermudah umatnya, namun tetap ada aturannya.

Mudah-mudahan Allah tetap menjaga hati saya untuk selalu haus dengan majelis ilmu, dahulukan ilmu daripada amal, agar amal yang kita lakukan lebih bernilai, baik dimata masyarakat, dan Allah SWT, insyaAllah.. Amin. Secara menuntut ilmu agama itu hukumnya fardhu ain, dan ilmu yg lain itu fardhu kifayah.

CM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s