Home

Semua berawal ketika malam hari di kantor sendirian, kemudian iseng mengetik “pengajian di Jakarta” dan muncullah YISC Al Azhar, kemudian langsung meluncur ke websitenya dan melakukan pendaftaran online. Setelah beberapa minggu kemudian email dari saya pun dibalas, diselingi dengan sms, yang isinya mengajak menghadiri triall class. Karena penasaran, triall class pun saya ikuti, di ruangan aula TK Al Azhar lt.3, saya mendengar pemaparan dari Ust. Rozik mengenai bilqis (salah satu metode membaca Al Quran) dan juga Ust. Agus, yang dengan jenaka menyampaikan materi mengenai islam.

Karena menurut saya menarik, maka setelah selesai triall class, saya langsung melakukan registrasi, berikut membayar infaqnya. Setelah mendaftar barulah saya berpikir kembali, “hmm… apakah saya yakin untuk ikut pengajian ini? secara saya belum pernah ikut rohis semenjak sekolah, saya terakhir ngaji itu TPA waktu SD, trus ntr kalo ngobrol ga nyambung sm yg laen gmn, secara latar belakang saya kontras bgt, belum lagi pas di tes quran kl bacanya ga lancar gmn…. yaudah lah dijalanin ajah, toh niat saya baik, kalo ntr ga nyaman yah tinggal keluar, gtu ajah kok repot, hehe”

Oiya jika berbicara latar belakang saya, memang sangat kontras dengan pengajian, dari SMP hingga SMU, saya sudah menjadi langganan dipanggil oleh guru karena bermasalah dengan urusan disiplin. Belum lagi ketika kuliah dan setelah lulus, banyak tindakan yang dilarang agama yang pernah saya cicipi, walaupun ga addict sih. Jika diibaratkan, saya itu seperti baju kotor yang ingin masuk mesin cuci, nah kotornya itu ga ketulungan, kira-kira bisa bersih gak yah setelah masuk YISC… InsyaAllah, Amin

Akhirnya masa perkenalan anggota baru tiba, saya mulai berbaur dengan beberapa anggota lain, ternyata ketakutan saya diawal tidak terjadi, saya tidak merasa asing, ternyata teman-teman disini santai, humoris, gaul, dan pastinya fun, ga kaku seperti yg saya bayangkan diawal. Malah saya merasa menemukan sahabat baru di sini, sahabat yang bisa menolong di dunia dan akherat, amin. Kemudian setelah beberapa pertemuan saya ikuti, beberapa “yg meragukan” saya tidak saya temukan di YISC, malah di lingkungan lama saya yg banyak muncul, seperti “yakin lo sekarang jadi anak pengajian, apa cuma mau nyari jodoh” ada juga yg berkata “paling juga ga bertahan lama, ntr juga ga betah lo chan”. Mendengar beberapa perkataan seperti itu dengan diselingi nada bercanda, saya hanya berkata, “iya nih, cape juga bergaul dengan pandai besi, pengen ngerasain bergaul dengan tukang minyak wangi, wkwkwkwk..”

Ketika mulai dikenalkan metode bilqis, saya di usia 26 tahun baru sadar ternyata masih banyak yang salah dalam membaca Al-Quran, beberapa hal yg mendasar, seperti idgom yg selalu gw baca “ng” ternyata selama ini kurang tepat, belum lagi beberapa qolqolah, dan juga mahraj huruf. Hal ini terjadi karena dulu saya belajar ngaji di TPA lebih banyak 1 arah, sedangkan sekarang berbeda, saya lebih kritis dalam menerima ilmu yg masuk. Selain ilmu membaca, ternyata diajarkan pula nada membacanya, agar Quran tidak sekedar enak dibaca, melainkan enak pula didengar. Kemudian di kelas SII saya bisa bertanya mengenai hal yg konyol, dan menurut saya sih mendasar, seperti apa yang dilakukan makmum ketika solat yg bacaannya tidak dikeraskan, sedangkan imamnya kelamaan tidak kunjung ruku’, yg pasti dengan mendalami ilmu agama, saya lebih yakin dalam menjalani hidup dan yakin dengan kebenaranNya.

Yang dasyat dari YISC ini menurut saya adalah “the power of jamaah”. Karena jumlah anggotanya banyak dan dari berbagai latar belakang yang berbeda, maka pemikirannya pun berbeda pula, namun ukhuwah yang terbentuk sedemikian kuat, sehingga satu sama lain saling mengingatkan. Informasi kajian baik dari dalam maupun diluar YISC saling update. Pernah mendengar dari salah satu rekan di YISC, bahwa berbuat baik itu mudah, yang sulit itu berbuat baik terus, dan hal tersebut masih saya rasakan hingga saat ini, pasang surutnya iman masih terjadi pada saya, dan salah satu cara untuk meningkatkannya yaitu bertemu dengan para sahabat di YISC.

Hingga saat ini masih ada rasa malu berada di lingkungan yang semangat belajar agamanya begitu kuat, namun satu sisi lainnya merasa beruntung, karena semangat tersebut tertular melalui hubungan ukhuwah yg kuat. Jadi ingat kembali kepada salah satu Ust. yg mengajar SII di YISC, “belajar ilmu agama itu hukumnya fardhu ain, sedangkan ilmu yg lain itu fardhu kifayah, nah misal di dunia ini gada yg mempelajari ilmu kedokteran, maka dosa lah seluruh dunia, seperti yang berlaku dalam menjawab salam. Memang saat ini belajar agama islam bisa melalui apa saja, apalagi perkembangan internet begitu cepat, asalkan kita memiliki kemauan yang keras. Namun salah satu cara agar konsisten dalam belajar agama, yaitu dilakukan secara jamaah, sehingga semangat belajarnya tetap tumbuh (karena saling mengingatkan dikala turun), dan carilah komunitas yang bisa membuat jamaah itu tetap solid dan membuat kita akan tetap bersemangat untuk belajar agama.

Yang belum mendapatkannya, selamat mencari!

Yang sudah dapat, tetap semangat!

salam fardhu ain

CH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s