Home

Saat ini gw mencalonkan diri dan kebetulan dicalonkan juga oleh kelas D untuk ikut dalam daftar kandidat calon ketua angkatan Juli 2010 di YISC Al-Azhar. Seru sekali menjadi bagian dari keluarga besar YISC Al-Azhar, yang merupakan salah satu pengajian remaja terbesar dan tertua di Jakarta.

Menjadi ketua atau pemimpin tentu bukan pekerjaan yang mudah, hal ini saya rasakan ketika awal mula membangun perusahaan dan mulai menerapkan corporate culture di dalam perusahaan saya sendiri. Dari mulai cara berpakaian, kedisiplinan dalam mengatur waktu, tata cara bersikap, berbicara, dll…..

Awalnya mungkin terlihat sepele, namun lama kelamaan ternyata ada dampak kongkretnya, salah satunya ketika saya sudah mulai memiliki beberapa karyawan, dan saya masih suka tidur di kantor karena harus mengerjakan beberapa pekerjaan yg dikejar deadline, dan celakanya saya belum bisa konsisten dalam mengatur waktu, saya terkadang masih tidur ketika karyawan saya datang ke kantor, dan OB saya pun tidak berani membangunkan saya.

Akhirnya setelah beberapa minggu, kok karyawan saya makin lama makin telat yah…. kemudian saya berfikir, apa mungkin gara2 saya yah. Kemudian saya coba bertukar pikiran dengan teman saya yang berprofesi sama dengan saya, yaitu sebagai enterpreneur, dan menurutnya hal yg saya lakukan sangat berpengaruh terhadap karyawan saya, bagi karyawan, saya adalah sosok pemimpin, yang suka tidak suka atau mau tidak mau perilaku saya akan menular kepada yg lain.

Kembali ke pokok permasalahan, program apa yg akan saya jalankan jika saya terpilih menjadi ketua angkatan? Sebenarnya program saya ini sangat sederhana dan urgent untuk dijalankan, kenapa seperti itu? Sebagai komunitas belajar, YISC Al-Alzhar khususnya angkatan saya sendiri, memiliki permasalahan besar dengan kata BELAJAR, kenapa seperti itu?

Saat ini proses belajar menjadi gampang-gampang susah, maksudnya gampang dalam mendapatkan sumber informasi, namun susah memilih informasi mana yg benar dan sesuai, yg lebih susahnya lagi menerapkan informasi yg kita dapat untuk kemajuan umat. Tanpa kita sadari, saat ini proses konsumtif tidak hanya terjadi pada produk pakaian atau makanan, yg belakangan ini mall maupun restoran semakin menjamur.

Dalam bidang informasi pun demikian, konsumtif tidak bisa dielakkan, dan celakanya informasi yg lebih menarik dalam pengemasan dan paling gencar datang ke kita adalah informasi yg lebih kurang manfaatnya. Apakah informasi yg banyak manfaatnya kurang kreatif dalam menyampaikan, ataukah orang/institusi yg memiliki banyak informasi penting itu “selalu main aman” atau malah mereka terlalu sibuk mengurusi internal mereka hingga lupa untuk mempublishnya?

Ini sebenarnya kegelisahan yg saya rasakan sekarang, dan menurut saya hal ini bisa segera diatasi jika kita sesama muslim bisa bergandengan tangan, dan merangkul pakar2 dibidangnya untuk melakukan perubahan besar. Untuk sebuah institusi seperti YISC saat ini saya hanya bisa menawarkan sebuah program untuk mengoptimalkan dunia internet, yaitu dengan membuat web atau blog yang berisi materi yang didapat selama saya dan rekan2 satu angkatan di YISC, ditambah lagi dengan materi-materi kajian yg menarik dari YISC.

Apakah hal tersebut sulit? menurut saya tidak, berapa banyak waktu yg dihabiskan untuk update status di fb, twitter, foursquare, koprol, atau curhat di blog pribadi? dan jika di kalkulasikan waktu tersebut mampu memposting sebuah materi kajian atau materi sekali pertemuan yg saya dan rekan dapat di YISC. Tidak harus bermodal perekam suara berharga mahal, sebuah HP yg sering digunakan untuk bertukar PIN pun bisa.

Tapi kenapa hal ini belum terlaksana dengan baik, hmm…  mungkin karena hal ini belum dianggap penting, atau terlalu fokus dengan kata komunitasnya dibandingkan kata belajarnya. Mungkin sebagian dari kalian pernah mendengar bahwa saat ini kita dijajah bukan lagi dengan senjata api ataupun meriam, melainkan oleh informasi yg dapat menghancurkan keyakinan kita.

Mengutip salah satu pidato Steve Jobs (Founder/CEO Apple) bahwa jangan hanya menjadi korban atau saksi sejarah, melainkan bisa menjadi penanda sejarah. Jika saya meninggal pun, lalu saya tidak mampu menandakan sejarah, minimal institusi tempat saya bernaung mampu melakukan itu. Dan bukan sekedar laporan event seperti  CSR Perusahaan-perusahaan besar yg melakukan itu demi keuntungan profitnya, melainkan sebuah informasi yang kandungannya mampu membuat komunikannya berubah/bertambah menjadi lebih baik untuk dunia dan akhirat, amin…..

CH

2 thoughts on “Kegelisahan seorang calon ketua terhadap programnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s