Home

Ketika lulus SMU dan saya memutuskan untuk melanjutkan ke bangku kuliah, saya memilih jurusan desain, tepatnya desain komunikasi visual. Lalu salah satu anggota keluarga saya menyangkal, walaupun kamu jago gambar, tapi kan kamu ga punya darah seni dra? mana ada keluarga kita yg dlunya pelukis, pematung, atau yang berhasil menjadi seniman. Sempet berpikir sejenak, bner juga yah. Tapi langsung teringat ketika gw duduk dibangku sekolah, tepatnya ketika SLTP kelas 1, saat itu saya mencoba menggambar tembok kamar dengan gambar tokoh kartun ternama, dengan cara melihat tokoh tersebut di hadiah makanan ringan, lalu menggambarnya dengan pensil di media tembok, saat itu memang saya langsung menarik garis demi garis membentuk gambar yang saya inginkan, namun tiba-tiba saya berhenti menarik garis, saya lihat dari kejauhan, kemudian mengukurnya dengan tangan, “kalo ukurang palanya sekian, berarti badannya sekian”.

Dari situlah semuanya bermulai, ketika masuk disalah satu perguruan tinggi pun akhirnya saya mengetahui bahwa untuk menggambar anatomi manusia, tidak langsung menarik garis dan mengikuti garis wajah, mulut, hidung, dll. melainkan kesemuanya itu memiliki ukuran, seperti jarak antar kedua mata adalah 1 mata, jarak dari dagu ke dada adalah 1 kepala, dan seterusnya. Begitupun dengan warna, warna merah artinya ini, warna kuning artinya itu, seakan-akan ketika mempelajari warna seperti belajar matematika atau fisika dasar, semua ada aturannya, semua telah terbentuk normanya. Ketika tingkatan di bangku kuliah semakin tinggi, ilmu yang dipelajari pun semakin beragam, yang paling saya ingat yaitu ketika belajar estetika, dimana di salah satu bukunya disebutkan bahwa senirupa itu terdiri dari garis, warna, komposisi, dll (maaf jika saya lupa :D) tetapi intinya setiap elemen senirupa tersebut mempunyai penjelasan.

Lalu mengapa masih banyak orang beranggapan senirupa, khususnya desain merupakan bakat seni? Apakah mereka menganggap desainer itu mampu membuat sebuah gambar dengan mata tertutup, atau hanya dengan ditiup saja, maka gambar akan langsung jadi, karena bakat seninya telah tertanam dari leluhurnya. Bagi saya desainer adalah salah satu ilmu dalam menjelaskan suatu pesan. Agar mampu menjelaskan suatu hal, tentunya desainer membutuhkan informasi, dari manakah informasi tersebut, yang pertama tentu dari si penerima pesan, kemudian dari pengalaman desainer, lalu dengan lingkungan yang terjadi sekarang. Semakin banyak informasi yg didapat, semakin mudah seorang desainer untuk menjelaskan karyanya. Tentu dengan batasan dan benang merah yang telah ditentukan, agar informasi yg didapat tidak ngawur dan malah membingungkan.

Jika desainer A karyanya sudah mampu menjelaskan, begitupun desainer B demikian, lalu mana yang lebih baik? Jika sudah tahap pertanyaan ini, faktor seni, dan ilmu lain diluar desain baru berbicara…. bagian ini sudah memasuki tahapan “penekanan”. Namun berdasarkan pengalaman saya pribadi masih banyak desainer yang belum mampu membuat karya yang menjelaskan, mereka masih bingung mengenai informasi apa saja yang perlu dijelaskan, yang saya pun tidak tahu, apakah sistem pengajaran dan cara belajar si desainer yang masih salah, atau mereka belum mengetahui informasi wajib apa saja yang harus dimiliki desainer, Jika hal yang mendasar seperti ini belum berhasil ditangani, bagaimana berkompetisi dengan dengan pasar bebas, parahnya jika desainer seperti ini masih bertebaran, tentu profesi desainer akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dihargai oleh masyarakat luas.

Saya hanya bisa mengajak, “mari bagi mereka yang telah mampu membuat desain menjadi menjelaskan, tolong dibagi informasi yang anda miliki ke mereka yang masih bingung desain itu harusnya seperti apa”

maaf dan terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s