Home

Dalam beberapa hari ini saya bertemu dengan orang-orang yang bercerita mengenai keadaan masyarakat indonesia, atau yang sering disebut oleh mereka “pasar”. Menurut salah satu tokoh yg saya kagumi, pasar kita saat ini jika dikomikkan seperti gambar kepala yg mulutnya sedang terbuka lebar dan mengarah keatas, yang menandakan siap menerima apapun makanan yang masuk, bahkan kata menagih/addict lebih cocok. Menurut salah satu rekan saya, bahwa salah kaprah jika perekonomian indonesia harus mengikuti pasar saat ini, karena pasar yang terjadi sekarang adalah pasar yang serakah, pasar yang tidak bisa menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Mungkin pemerintah sekali-kali harus mencoba mengerem gadget yang saat ini peredarannya semakin banyak di masyarakat, jika diibaratkan pemerintah adalah orang tua, dan masyarakat adalah anaknya, maka si ayah menahan beberapa barang milik anaknya, dan menanyakan ke anaknya, “nak, apakah kamu butuh ini? kalo ini? nah yang ini? Dari pertanyaan tersebut si anak akan lebih berpikir bahwa barang yang ia miliki apakah benar-benar penting atau tidak.

Dari gambaran cerita diatas saya ingat kata-kata dari teman saya yang berprofesi sebagai motivator, ia menulis “jangan menilai orang dari yang ia miliki, melainkan apa yang ia cita-citakan” hal tersebut sangat berhubungan dengan pasar, seperti yang telah disebutkan diatas, pasar saat ini lebih memperhatikan dengan kata “memiliki”, ia memiliki HP canggih ini, ia memiliki mobil bagus ini, ia memiliki pacar cantik ini, dimana semakin banyak kata memiliki, maka semakin hebat orang tersebut. Padahal belum tentu orang yg tidak memiliki material (seperti yang telah disebutkan) ia bukanlah orang hebat. Bisa saja orang tersebut mempunyai cita-cita yang luhur, dan ia telah banyak berjasa terhadap masyarakat sekitarnya.

Saya setuju dengan pendapat teman saya yang berprofesi sebagai motivator tersebut, namun ada yang perlu ditambahkan sedikit, “janganlah menilai seseorang dari apa yang telah ia miliki, melainkan dari cita-citanya, hal yang pernah dilakukannya, dan apa yang ia percayai”. Jika masyarakat Indonesia mampu mempunyai mind set seperti itu, saya yakin negara ini akan terangkat dari krisis perekonomian seperti sekarang ini, dan yang pasar kita akan lebih produktif dan terdidik.

“janganlah menilai seseorang dari apa yang telah ia miliki, melainkan dari apa cita-citanya, hal yang pernah dilakukannya, dan apa yang ia percaya”

Bagaimana langkah kongkret untuk merubahnya? tentu tidak bisa dilakukan secara parsial, harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait, baik itu pemerintah, perusahaan swasta, NGO, maupun masyarakat itu sendiri. Jika saya pribadi memulainya dengan sesering mungkin menanyakan kepada diri saya sendiri ketika melihat langsung atau melalui media disekitar saya mengenai barang/material yang menarik bagi saya, apakah saya benar-benar butuh ini? dan apa yang harus saya lakukan saat ini untuk masyarakat di sekitar saya?

mmm… produktif atau konsumtif?

terserah anda,

thanksb4,

——————————————–
CHANDRAHOPEPLUS
Telp: 021-99147308
Email: Chandra.marwanto@hope-plus.com
FB/YM: chany_simply@yahoo.com
————————————————–
HOPEOFFICE
Jl. Jaha, No. 6A,
Kramat-Cilandak Timur 12560
Jakarta Selatan-Indonesia
Telp: 021-7816914
Fax: 021 7816914
http://www.hope-plus.com
——————————————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s