Home

Sebuah penggambaran (ilustrasi) tentu diperlukan yang sejelas mungkin, dan mampu membuat konsumen untk membeli (call to action). Sebagian besar manusia masih menganggap bahwa foto adalah sesuatu yang pernah terjadi, dan dianggap refleksitas dari objek nyata tanpa mempedulikan apa yang telah dilakukan oleh fotografer dan desainer dalam keterlibatannya memproduksi foto tersebut. Sebuah objek yang difoto, kenyataannya sudah memiliki maknanya sendiri, namun ketika objek tersebut digambar melalui cahaya oleh fotografer, sang fotografer merubah, atau bahkan menciptakan makna baru dalam karya fotonya, dan ketika sampai ke tangan desainer, desainer pun mulai mengolah foto tersebut, ternyata maknanya pun berubah, karena ia mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti spesifikasi yang dibahas pada tulisan ini.

Spesifikasi sepatutnya dipahami benar oleh desainer dalam menggunakan ilustrasi fotografi, agar pesan yang disampaikan lebih komunikatif. Memang dalam menentukan spesifikasinya tidak ada peraturan yang baku, mengingat bidang seni rupa dan desain tidak dapat dilakukan penghitungan yang objektif dan terukur dengan pasti, karena dalam menentukan spesifikasi ini melibatkan intepretasi dari masing-masing desainer, dan intepretasi yang didapat pasti berbeda-beda, karena bersifat subjektif dan berdasarkan pengalaman yang didapat. Namun disini spesifikasi yang dilakukan, selain intepretasi dari peneliti, melibatkan opini dari pakar fotografi, desain, literatur, dan produsen dari iklan yang menjadi studi kasus tulisan ini.

Spesifikasi yang didapat antara lain :

1. pesan

2. komposisi

3. warna

Spesifikasi diatas hanya di sekitar wilayah kajian desain komunikasi visual, walaupun berhubungan erat dengan bidang fotografi, namun peran desainer tidak turut serta dalam proses dan teknik memfoto.

spesifikasi tersebut merupakan penjabaran makna denotatif, yaitu hanya fisik iklan yang dikupas. Yang menarik dari iklan A-mild bukan saja dari segi fisiknya yang membuat mata kita tertuju kesana, namun lebih kepada makna konotatif, baik dari isi pesannya yang “nyeleneh”, ataupun ilustrasi fotografinya yang merupakan simbol-simbol yang menyentuh sisi sosial di kalangan masyarakat perkotaan, khususnya para eksekutif muda. Dalam tulisan ini walaupun hanya mengambil satu sampel, tapi makna konotatif yang terkandung begitu kaya, baik ketika ilustrasi tersebut belum dikategorisasikan, maupun setelah dikategorisasikan. Liat saja objek kacamata hitam dan berukuran besar, lalu kumis yang tebal, dan kulit berminyak dan bertekstur kasar, yang merupakan simbol dari polisi lalu lintas yang ada di Indonesia.

Terkadang sebuah spesifikasi dalam bidang desain komunikasi visual, seperti ilustrasi fotografi, memang tidak bisa sepenuhnya memberikan solusi dalam membuat ilustrasi fotografi yang baik, mengingat bidang desain komunikasi visual dekat sekali hubungannya dengan selera (taste). Namun unsur komunikasi tentu tidak kalah penting, dimana dengan memahami spesifikasi yang telah dijabarkan pada tulisan ini akan memperkecil kesalahan dalam berkomunikasi dalam bidang ilustrasi fotografi. Untuk para akademisi, sebuah wacana kritis mengenai bidang senirupa dan desain, seperti ilustrasi fotografi ini akan tumbuh subur menjadi sebuah ilmu pengetahuan[1], dan ilmu pengetahuan tersebut mungkin akan mati, jika semua desainer berhenti membuat wacana kritis, dan sibuk dengan teknis maupun aplikasi yang terkadang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Makna, yang bisa diartikan sebagai hasil negoisasi[2], tentu akan selalu berkembang seiring dengan waktu, baik itu makna denotatif, ataupun makna konotatif merupakan hal yang harus selalu dipelajari dan diteliti oleh para desainer komunikasi visual. Seperti yang terjadi pada iklan A-mild, khususnya dalam hal ilustrasi fotografi, tentu produsen iklan tersebut sangat memperhatikan makna konotatif yang terkandung dalam iklan tersebut, sehingga masyarakat mampu menerimanya dengan baik. Untuk para desainer yang ingin terjun dalam dunia iklan, tentu dengan mengetahui semakin banyak makna konotatif yang terkandung dalam setiap elemen visual yang digunakan, tentu akan semakin baik.


[1] Seno Gumira Ajidarma, Kisah mata, Galang Press, 2002

[2] Jalaludin Rachmat, Psikologi persepsi, Rosdakarya, Bandung, 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s