Kenapa Chandra memilih lebaran Rabu (31 Agustus 2011)

Hari ini terjadi lagi, perbedaan waktu lebaran di negara saya, dan kejadian ini pernah saya tanyakan tahun lalu ketika sedang mengaji di YISC Al Azhar Kebayoran Baru,  saat itu pembahasannya mengenai ijma dan qiyas  (hukum islam selain Al Quran dan Hadist). Kemudian pertanyaan saya begini: “Pak Ust, boleh ga, kalo saya pas lebaran itu nyari yang paling cepet/duluan?” Bisa ajah ngikutin Muhammadiyah, atau NU, atau Pemerintah, seperti kl mau buka puasa nyari adzan yg paling cepet :) …..bukannya  islam kan memudahkan umatnya?

Kemudian beliau menjawabnya, diawali dengan memberi pengertian sedikit mengenai ijma (ketetapan), dimana ijma dihasilkan dari para pakar di bidangnya, para pemuka agama, dan pemimpin/pemberi keputusan. Lalu beliau pun menjelaskan mengenai imam. Yang saya tangkap imam disini seperti murabbi, disaat zaman Rasul SAW dan sahabatnya dulu, kenapa sebuah negara/kaum menjadi kuat, karena masing-masing umatnya memiliki imam, yang fungsinya bukan sekedar menjadi pihak ke-3 dalam mencari jodoh, melainkan mampu membantu memberikan solusi, dan masing-masing imam mengenali jamaahnya, sehingga jika terjadi sesuatu akan mudah dalam proses identifikasinya.

Nah jika terjadi kebingungan mana lebaran yg harus dipilih, lebih baik mengikuti pemerintah, kedepannya kalian dapat belajar mencari imam yang sesuai dengan kalian, dan jika terjadi permasalahan ini kembali, kalian bisa menanyakan ke imam kalian.

Ow bgono ternyata…. iya juga sih, secara kalo saya ikut Muhammadiyah, atau jenis yg lain, toh saya belum mengerti secara terperinci, apakah Muhammdiyah itu hanya sekedar solat subuh ga pake qunut dan tarawih 8 rakaat, atau ada hal-hal lain yang lebih terperinci, hmm… kedepannya saya bakal caritahu lagi mana yg sesuai dengan saya.

Yang penting jangan jadi islam semau saya ajah, itu juga yg digaris bawahi sama pak ust, bahaya jika kita memilih lebaran dengan alasan yg paling cepet, itu tandanya kita hanya menerima ajaran islam yg sesuai dengan ego kita, yg tidak sesuai bakal dikesampingkan. Agama islam memang mempermudah umatnya, namun tetap ada aturannya.

Mudah-mudahan Allah tetap menjaga hati saya untuk selalu haus dengan majelis ilmu, dahulukan ilmu daripada amal, agar amal yang kita lakukan lebih bernilai, baik dimata masyarakat, dan Allah SWT, insyaAllah.. Amin. Secara menuntut ilmu agama itu hukumnya fardhu ain, dan ilmu yg lain itu fardhu kifayah.

CM

Tadabur Al Quran @Al Azhar

Pada malam ramadhan ke 27, bertempat di Masjid Agung Al-Azhar, Yayasan Ar-rahman mengadakan acara tadabur Al-Quran, yang tema besarnya selain mengupas malam lailatul qadar, juga tak ketinggalan membahas tentang moral bangsa tercinta ini.

Yang tak kalah menarik yaitu MC-nya yaitu Miing-Bagito, sekarang beliau menjadi salah satu anggota dewan. Ketika di acara ini tak henti-hentinya terkena sindiran dari 3 nara sumber, misal ketika Sandiaga Uno (20 besar orang terkaya di Indonesia) membahas bahwa salah satu kunci sukses beliau selama ini yaitu 4 hal mendasar: 1. kerja keras, 2. kerja cerdas, 3. kerja tuntas, 4. kerja ikhlas. Nah pas bagian kerja tuntas, langsung melesat sindiran ke Bang Miing, dimana banyak sekali anggota dewan yang tidak tuntas dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Belum lagi ketika Ust. Bachtiar Natsir berbicara mengenai jika seorang muslim yang baik dalam membela kepercayaannya harus siap dengan pengorbanan, baik itu keluarga, harta, jabatan… dan di Dewan sepertinya jarang terdapat muslim yg baik, contohnya yang sedang marak sekarang, yaitu Nazarudin. Memang sih ada juga orang baik yg duduk di gedung DPR, salah satunya yg berdiri dihadapan kalian (wkwkwk bang miing langsung narsis)

Ketika Mario teguh mulai berbicara, lucunya dia melempar pertanyaan kepada jamaah di Masjid, “diantara kalian pasti masih banyak yang menyangka jika saya adalah non muslim?” spontan jamaah tersenyum dan mengangguk. Dan Pak Mario pun tersenyum, dia berkata jika kita ingin dikenal, jangan menggunakan cara yang umum dilakukan orang lain, dan dia mengatakan bahwa seorang muslim lebih mulia jika dinilai dari perilakunya yang memiliki nilai-nilai luhur, bukan dari tampilannya. Kemudian Pak Mario mengajak kepada seluruh jamaah untuk berpikir bahwa kita harus memantaskan diri mendapatkan malam lailatul qadar, karena jika kita berpikir kita berhasil mendapatkannya maka kita tidak akan sibuk menghitung lailatul qadar itu jatuh pada malam apa, dan hidupnya akan berubah menjadi lebih baik.

Kemudian Ust Bachtiar Natsir sempat menyindir jika masih sebagian besar masy kita menjadikan Al Quran hanya sebagai dokmah, tapi belum dapat mentadaburinya, beliau berharap masy Indonesia mampu menjadikan Al-Quran sebagai panduan gaya hidup. Beliau pun sempat memberikan pertanyaan, apakah disini ada yang pernah terlintas, negara kita kan bukan negara islam, mana mungkin mempraktekkan aturan islam di negara kesatuan yg berasaskan pancasila ini? lalu beliau memberikan gambaran, bahwa, apakah ketika Rasulullah SAW melakukan dakwah, tempatnya itu sudah berlandaskan islam….

Ada pertanyaan yg lumayan seru dari Bang Miing kepada Sandiaga Uno, “apakah negara kita mampu bangkit dari keterpurukan yg terjadi sekarang?” Kemudian beliau menjabarkan beberapa fakta dan cerita seperti, Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar ke-18 di dunia, namun pendapatan perkapitanya di urutan 167. Jika moral bangsa indonesia tidak berubah mulai sekarang, sulit rasanya jika bangsa ini bisa bangkit. Beliau bercerita sedikit mengenai pengalamannya ketika sekolah di luar negeri, saat itu di kafetaria kampus, ada 3 kumpulan mahasiswa, indonesia, India, dan Amerika. Kemudian ada salah satu teman Mas Sandiaga Uno datang, saat itu cuaca sedang diguyur hujan, jadi jalanan licin. Ketika Mas Sandiaga ingin berdiri dan memperingati agar hati2, salah satu temannya menahannya, dan akhirnya mahasiswa Indonesia yang datang itupun tergelincir dan jatuh, dan bagaimana reaksi mahasiswa indonesia yg lain? … yups.. ketawa terbahak-bahak, mahasiswa amerika langsung menghampiri, menanyakan kabar, dan membantu merapihkan buku yg dibawa, mahasiswa India langsung mengambil secarik kertas, lalu menuliskan hati-hati licin (dalam bahasa inggris tentunya) dan ditempel di pintu kafe.

Itulah salah satu contoh nyata moral bangsa ini. Maka beliau pun mengajak para jamaah untuk berubah, ditambahkan oleh bang Miing, bahwa runtuhnya suatu bangsa bukan karena kurangnya SDA, atau digempur oleh bom atom, tapi karena hancurnya moral penduduknya. Mas Sandiaga menjabarkan sedikit mengenai bekerja ikhlas, dan didukung oleh Ust Bachtiar Natsir, bahwa ikhlas itu bukannya bekerja tidak dibayar, melainkan bekerja dimana tujuan utamanya adalah Allah SWT, dan salah satu bentuk ibadah kita sebagai umat muslim.

Seru sekali berada di ruangan itu, walaupun suasananya terlihat sesak, karena dua lantai sampai penuh, bahkan para akhwat banyak yang duduk di luar masjid. Subhanallah…. indahnya Masjid jika seperti ini, ditunggu acara berikutnya Pak Ust. Bachtiar

CM