Chan’s Blog

Pitching: Desainer vs Klien

January 16, 2010 · 2 Comments

Judul diatas tercetus ketika, kemarin gw menghadiri acara majalah versus, dimana disana terdapat berbagai nara sumber dari PPPI, Afterhour, I-brand, … (maaf saya lupa sisanya :D ). Acara berlangsung lancar, walaupun baru dimulai pukul stgh 3 (telat stgh jam). Berbagai narasumber menjelaskan pitching ideal seperti apa, kemudian sikap yg perlu dihadapi oleh disainer dalam menghadapi pitching seperti apa, hingga hubungan antara presentasi, fee, hingga negosiasi dijelaskan secara singkat.

Namun yang menjadi ganjalan bagi gw, mm… Untuk masalah free pitching itu sebagian besar dihadapi antar institusi, dan didalam institusi itu yang paling berperan adalah pemegang kebijakan (dibaca: BOD). Acara seperti ini menurut saya lebih efektif jika yang diundang adalah klien dan BOD dr masing2 agency (baik besar maupun kecil). Maaf jika sedikit sombong :D . Saya merasa saya sih salah satu audience yg tepat untuk acara tersebut, secara jabatan ECD (Executive Creative Director), dimana salah satu responsible saya adalah menentukan kebijakan di divisi kreatif saya, hehe. Di acara tersebut saya pun bertanya “ada tips bwt agency pemula (yg sering melakukan free pitching dengan alasan dapur ngebul) agar mereka bisa tegas, tidak akan melakukan free pitching ga?

Menurut salah satu sumber yaitu ketua PPPI (maaf sy lupa namanya :D ). Satu, Perusahaan tersebut harus mengikuti award, karena menurutnya award itu seperti fashion show, anda pernah lihat berbagai merk, seperti gucci, dolche gabbana, vercace, dll membuat desain pakaian yg terkadang transparan, hingga terlihat dalaman dan lekuk tubuh modelnya, hal tersebut dilakukan agar detil dan inovasi brand nya muncul (maaf jika kata2nya ssaya modif :D ), tapi ketika anda berkunjung ke toko merk tersebut, tidak ada satu pun yang dijual, yang berada di toko tersebut hanya produk yang sesuai dengan pasar.

“Mengikuti award itu seperti mengikuti fashion show”

Dua, perusahaan baru tersebut harus melakukan “hal gila”, dia sempet bercerita mengenai apa yg dilakukan founder semut api coloni diawal mereka berdiri, dan saat ini semut api merupakan agency local yang disegani di tanah air. Namun gila disini menurutnya harus memiliki konsep yang jelas, jgn sampai seperti mengendarai sepeda di jalan tol (bs mati), kl naek sepeda ke luar negri sih gpp (tp ttp ga lwt jalan tol).

Yang saya tangkap dari narasumber yg ada adalah, bagi perusahaan harusnya smart dalam melihat peluang (saya membacanya mslh fee apa ngga itu urusan belakangan, yg penting bs melihat keuntungan lain, selain materi). Selain itu untuk berkompetisi, Sebuah perusahaan agency harus memiliki value tersendiri, dan mampu menerjemahkan brief dari klien dgn baik. Buat saya dan perusahaan saya sih melihat pitching (free atau tidak) itu seperti kompetisi berbasis bisnis. Dan itu tidak menjadi prioritas perusahaan saya saat ini, saya lebih merasa bangga jika dikenal sebagai perusahaan yang bermanfaat bagi orang banyak, mampu mengharumkan nama Indonesia, dan mampu menciptakan inovasi baru setiap saat, dibandingkan perusahaan yang “jagoan pitching”.

saya lebih merasa bangga jika dikenal sebagai perusahaan yang bermanfaat bagi orang banyak, mampu mengharumkan nama Indonesia, dan mampu menciptakan inovasi baru setiap saat, dibandingkan perusahaan yang “jagoan pitching”.

Diluar konteks pitching, gw dah terimakasih bnyk bwt yg ngadain acara ini, dan khususnya narasumber yg udah memberikan info-info penting yang mampu menginspirasi saya dan perusahaan saya. Entah itu judulnya pitching, piring atau pirching, begitupun yg dateng desainer, BOD, klien atau OB sekalipun, semua itu hilang ketika mendengar narasumber bercerita dengan pengalamannya dan pandangannya yang menarik, walaupun di pikiran mereka faktor profit tetap ada, tapi saya yakin tujuan mulia mereka untuk meningkatkan value desain grafis di masyarakat dan klien tetap tumbuh subur.

→ 2 CommentsCategories: CATATAN HARIAN

Desain itu menjelaskan, bukan “bakat seni” (PART 1)

January 8, 2010 · Leave a Comment

Ketika lulus SMU dan saya memutuskan untuk melanjutkan ke bangku kuliah, saya memilih jurusan desain, tepatnya desain komunikasi visual. Lalu salah satu anggota keluarga saya menyangkal, walaupun kamu jago gambar, tapi kan kamu ga punya darah seni dra? mana ada keluarga kita yg dlunya pelukis, pematung, atau yang berhasil menjadi seniman. Sempet berpikir sejenak, bner juga yah. Tapi langsung teringat ketika gw duduk dibangku sekolah, tepatnya ketika SLTP kelas 1, saat itu saya mencoba menggambar tembok kamar dengan gambar tokoh kartun ternama, dengan cara melihat tokoh tersebut di hadiah makanan ringan, lalu menggambarnya dengan pensil di media tembok, saat itu memang saya langsung menarik garis demi garis membentuk gambar yang saya inginkan, namun tiba-tiba saya berhenti menarik garis, saya lihat dari kejauhan, kemudian mengukurnya dengan tangan, “kalo ukurang palanya sekian, berarti badannya sekian”.

Dari situlah semuanya bermulai, ketika masuk disalah satu perguruan tinggi pun akhirnya saya mengetahui bahwa untuk menggambar anatomi manusia, tidak langsung menarik garis dan mengikuti garis wajah, mulut, hidung, dll. melainkan kesemuanya itu memiliki ukuran, seperti jarak antar kedua mata adalah 1 mata, jarak dari dagu ke dada adalah 1 kepala, dan seterusnya. Begitupun dengan warna, warna merah artinya ini, warna kuning artinya itu, seakan-akan ketika mempelajari warna seperti belajar matematika atau fisika dasar, semua ada aturannya, semua telah terbentuk normanya. Ketika tingkatan di bangku kuliah semakin tinggi, ilmu yang dipelajari pun semakin beragam, yang paling saya ingat yaitu ketika belajar estetika, dimana di salah satu bukunya disebutkan bahwa senirupa itu terdiri dari garis, warna, komposisi, dll (maaf jika saya lupa :D ) tetapi intinya setiap elemen senirupa tersebut mempunyai penjelasan.

Lalu mengapa masih banyak orang beranggapan senirupa, khususnya desain merupakan bakat seni? Apakah mereka menganggap desainer itu mampu membuat sebuah gambar dengan mata tertutup, atau hanya dengan ditiup saja, maka gambar akan langsung jadi, karena bakat seninya telah tertanam dari leluhurnya. Bagi saya desainer adalah salah satu ilmu dalam menjelaskan suatu pesan. Agar mampu menjelaskan suatu hal, tentunya desainer membutuhkan informasi, dari manakah informasi tersebut, yang pertama tentu dari si penerima pesan, kemudian dari pengalaman desainer, lalu dengan lingkungan yang terjadi sekarang. Semakin banyak informasi yg didapat, semakin mudah seorang desainer untuk menjelaskan karyanya. Tentu dengan batasan dan benang merah yang telah ditentukan, agar informasi yg didapat tidak ngawur dan malah membingungkan.

Jika desainer A karyanya sudah mampu menjelaskan, begitupun desainer B demikian, lalu mana yang lebih baik? Jika sudah tahap pertanyaan ini, faktor seni, dan ilmu lain diluar desain baru berbicara…. bagian ini sudah memasuki tahapan “penekanan”. Namun berdasarkan pengalaman saya pribadi masih banyak desainer yang belum mampu membuat karya yang menjelaskan, mereka masih bingung mengenai informasi apa saja yang perlu dijelaskan, yang saya pun tidak tahu, apakah sistem pengajaran dan cara belajar si desainer yang masih salah, atau mereka belum mengetahui informasi wajib apa saja yang harus dimiliki desainer, Jika hal yang mendasar seperti ini belum berhasil ditangani, bagaimana berkompetisi dengan dengan pasar bebas, parahnya jika desainer seperti ini masih bertebaran, tentu profesi desainer akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dihargai oleh masyarakat luas.

Saya hanya bisa mengajak, “mari bagi mereka yang telah mampu membuat desain menjadi menjelaskan, tolong dibagi informasi yang anda miliki ke mereka yang masih bingung desain itu harusnya seperti apa”

maaf dan terimakasih

→ Leave a CommentCategories: CATATAN HARIAN

Transisi menuju 2010

December 26, 2009 · Leave a Comment

Saat ini sedang mencari-cari dan menganalisa, permasalahan apa yg paling sering terjadi dan sangat berpengaruh di tahun 2009. Semoga di tahun depan masalah tersebut bisa terselesaikan. Namun setelah dipikir lagi, yang lebih penting yaitu apa tujuan yg ingin gw capai di tahun 2010?

Seperti membetulkan mobil yg ingin berjalan jauh dan penuh rintangan, tp tanpa tujuan kan percuma juga, nentuin tujuan dulu baru deh persiapin apa ajah yg dibutuhkan dalam perjalanan, termasuk betulin mobilnya. Tujuan tahun lalu sepertinya telah tercapai, walaupun mm… dampak dari pencapaian tersebut tidak begitu signifikan gw rasakan, dlu gw beranggapan bekerja tanpa ada suruhan, tanpa harus ada pembelian waktu, bekerja sesuai dengan mood adalah sesuatu yg sangat menyenangkan dan hidup akan lebih santai. Ternyata setelah gw dapatkan semua itu, gw jd berpikir kembali, bahwa yg gw inginkan tahun kemarin bukanlah tujuan, melainkan proses. dan proses tersebut bukanlah yg ideal, bahkan terlalu egois.

Belajar dari pengalaman di 2009, yaitu berbagai materi yang gw miliki, dari mulai ponsel, dompet hingga isinya ludes. Semua kembali padaNYA, kalimat itu yang paling sering terbesit di tahun 2009. lalu apa yang tidak kembali? yang gw tau sih ada 3 hal, dari mulai anak yg shaleh, ilmu yang bermanfaat, dan harta yang diamalkan. Lalu apakah gw sudah melakukan semua itu? Tapi di sisi yang lain gw pengen mengembangkan perusahaan yang telah gw dirikan bersama teman-teman, apakah mengembangkan perusahaan merupakan kepentingan dunia semata? mungkinkah gw memiliki perusahaan yang mampu mengakomodir keperluan akhirat juga seperti perusahaan yang rajin beramal dan rajin membagikan ilmunya kepada yg membutuhkan, belum lagi perusahaan yang mampu menyadarkan seluruh pekerjanya bahwa mereka harus berbakti kepada orang tuanya tanpa melupakan fixs cost dan juga omset yang harus diperoleh setiap bulan dan setiap tahunnya?

mm… (diam sesaat sambil berpikir), untuk memberikan ilmu dan harta, perusahaan bisa melakukan kegiatan CSR (Corporate Sosia Responsible), baik untuk warga sekitar ataupun untuk kebutuhan religius, seperti program untuk masjid. Untuk pengembangan SDM yang tentu saja dapat membuat seluruh pekerja meningkat keimanannya, perusahaan dapat memberikan semacam diskusi dengan pakar agama atau psikologi, yang mampu menjawab segala persoalan yang dialamai para pekerja, atau melakukan morning break (seperti yang dilakukan pak Singgih). Untuk melakukan semua itu ga harus menunggu perusahaan besar kan? tinggal memasukkannya ke fixs cost (dengan kompromi dengan bagian keuangan tentunya).

Kembali lagi ke tujuan gw pribadi dan perusahaan gw, untuk 2010 gw mau segala kebutuhan religius gw terpenuhi, jika ada pertanyaan, bagaimana ketika membangun perusahaan ini kemudian ada pertanyaan, siapkah kamu jika tiba-tiba Allah memanggil gw? gw berusaha untuk menjawab siap, dengan segala perbuatan yg telah gw lakukan. selain itu gw ingin 2010 program CSR terlaksana (apapun keadaannya) dan tidak hanya sebatas planning, melainkan harus berhasil dieksekusi. Gw ingin menjadi young enterpreuneur yang paling bermanfaat bagi masyarakat, tentu tidak hanya diakui dalam sebuah award melainkan yg terpenting Ridho Allah, dan testimoni dari masyarakatnya langsung. Masih banyak perbuatan yang harus gw lakukan untuk menjadi seperti yang telah gw tulis barusan.

Jika gw menuliskan dengan kata-kata yang bisa menginspirasi gw dan tim kreatif/operasional disini yaitu:

“Everyday is Fun and Inspiring Our Audience!”

okeh, sekian intropeksi gw dan rencana gw ke depan, khususnya untuk 2010, gw akan memulainya sekarang, tidak ada kata adaptasi atau transisi di 2010, kan gw udah melakukannya sekarang, jadi di 2010 tinggal laksanakan….

thanksb4….

→ Leave a CommentCategories: CATATAN HARIAN

Aplikasi iphone mampu mendeteksi produk ramah lingkungan

December 20, 2009 · Leave a Comment

inhabitat

Mungkin dimasa depan masyarakat kota besar akan lebih selektif memilih barang, hal tersebut terbukti dengan diluncurkannya aplikasi untuk iphone yang mampu mendeteksi produk ramah lingkungan hanya dengan melihat barcode yang tertera di produk yang ingin dibeli.

Perusahaan berlogo apel ini memang semakin ramah lingkungan, karena produk macbook yg berwarna putih pada tahun 2007 sempat di protes, karena masih menggunakan bahan yang tidak ramah lingkungan. Akhirnya dengan munculnya new imac, dan juga macbook pro yang terbaru perusahaan ini melakukan pembenahan, tidak hanya bahannya yang ramah lingkungan, ukuran packagingnya pun diperkecil agar lebih hemat bahan bakar dalam proses pendistribusiannya.

Mudah-mudahan aplikasi ini mampu dipraktekkan di Indonesia, karena dengan cara seperti ini, masyarakat yang notabene pasar akan lebih terdidik, dan peduli terhadap lingkungan, karena perekonomian negara kita saat ini berbasis mengikuti kebutuhan pasar. Mari kita mulai bertindak sekarang, untuk membuat pasar tidak menjadi super duper konsumtif.

chandra-hopeplus

→ Leave a CommentCategories: HIJAU

Lowongan Art Director HOPE+

November 25, 2009 · Leave a Comment

Sapatau ada yg tertarik, silahkan aja dicoba :D .

HOPEPLUS
graphic communication solution
(PT. Cipta Cita Kreasindo)

Kami membutuhkan
AD=Art director:

Persyaratan:
- Memiliki selera desain yg baik
- Pria/Wanita, maksimal berusia 30 tahun
- Lulusan S1/D3 jurusan desain grafis atau periklanan
- Memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun di periklanan/rumah grafis
- Memiliki konseptual dan analisis desain yg mumpuni
- Mampu bekerja secara tim.

Kirim lamaran dan karya yang pernah dibuat ke: ola@hope-plus.com
selambat-lambatnya tanggal 18 Desember 2009

terimakasih atas waktu dan perhatiannya

→ Leave a CommentCategories: HOPEPLUS

acara temu kangen sltpn 1 cileungsi

October 25, 2009 · Leave a Comment

Karena ketika pembentukan panitia gw ada disana, dan mereka tahu kalo gw lulusan senirupa jurusan desain komunikasi visual, tanpa panjang lebar mereka memilih gw sebagai panitia bagian publikasi, dan yg menjadi tanggung jawab gw adalah undangan dan spanduk, akhirnya gw coba mentranslate maunya panitia dan peserta yg lain, dan keinginan mereka untuk mencantumkan batik sangat kuat, sisanya subjektif gw, gw suka dengan helvetica, dan gw suka dengan gaya desain yg memiliki volume/kedalaman, jadi deh seperti yg dibawah ini :D .

undangan-satoe-fiks

spanduk01lowres

spanduk02lowres

→ Leave a CommentCategories: CATATAN HARIAN

Siput-90

October 19, 2009 · 1 Comment

01-siput

02-siput

→ 1 CommentCategories: CATATAN HARIAN

Mencari kontrakan di JakSel

October 19, 2009 · Leave a Comment

hari senin, 20 oktober, tepatnya pukul stgh2 siang, ketika sinar matahari membuat bayangan kita semakin pendek, dan sinarnya langsung terasa di kepala, gw berdua dengan rekan gw mulai mengitari wilayah jakarta selatan menggunakan motor bebek dengan jaket tebal. sambil berkata “kita siap menantang matahari, heheh.. ” akhirnya kt kluar kantor. lokasi pertama yg dituju adalah duren tiga, kita sengaja memulainya dari jarak terjauh (posisi kantor gw di cilandak), ketika melewati buncit yang puanjang, kami mengendarai motor dengan pelan, hal itu disengaja, karena untuk mempermudah penglihatan kami terhadap plang “dikontrakkan/disewakan”. Disepanjang jalan buncit pun kami melihat ada beberapa ruko dan perkantoran yg disewakan, namun harganya masih terlalu tinggi bagi kami, karena salah satu kenalan kami menyewa dengan harga 60juta pertahun.

Akhirnya tiba di daerah duren tiga, penglihatan gw terhenti ketika melihat sebuah tulisan disewakan, yg dari luar terlihat suasana restoran, tepatnya didpn perkantoran yg baru dibangun, disebelahnya pun ada beberapa ruko yang sedang dibangun. Ketika melihat langsung tempat tersebut sebenarnya gw langsung tertarik, karena suasananya sangat “hommy” namun ternyata tempat tersebut bekas rumah makan dan toko buku yang sudah bangkrut, dan ia tidak menyewakan bangunan tersebut terpisah/tersekat-sekat, tetapi satu paket. karena tempat tersebut terlalu besar, maka kami mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut. Kami langsung pergi menuju tempat berikutnya. Kebagusan… yups itu daerah berikutnya yang kami tuju, setelah kantor indosat M2, beberapa ruko berderet disana, dari mulai yg cocok dibuat warung/bengkel, hingga kawasan perkantoran, ada 1 tempat yg membuat gw tertarik, ruko tersebut masih terlihat baru, dan kawasannya didepan town house, namun untuk kantor 1 lantai harga 40jt masih sangat tinggi.

Setelah 2 tempat kami tuju, akhirnya kami menuju srengseng sawah, disana ruko besar 2 lantai harganya masih berkisar 25juta, harga tersebut sama dengan tempat di pondok labu yang berukuran kira2 3×4m. Namun untuk daerah srengseng sawah kami masih memperhitungkan jarak dan juga luas bangunan, karena luasnya bangunan tersebut lebih cocok untuk membangun sebuah bank ketimbang kantor desain, hehehe.

kalo dari cerita diatas sebenernya bs diringkas,

laporan riset tempat hari senin:

- warung buncit (2stgh lt): 60jt

- kebagusan (2 lt, bangunan baru): 40jt

- Srengseng sawah (2lt, bangunan baru): 25jt

hahaha… trus ngapain gw bertele-tele nyampe pk kata-kata, “ketika”

yaaa… terkadang seseorang menolak sebuah kebenaran, tp tidak ada satu orang pun yg menolak sebuah cerita. tapi dalam tulisan ini gw ingin menyampaikan rate harga daerah jakarta selatan ya… sgitu (tp maaf jika gw terlalu cepat menyimpulkan :D ), itu blon kemang, radio dalem, dan antasari.

Ya… bginilah perjuangan enterpreneur, tapi jujur, semuanya itu menyenangkan.

→ Leave a CommentCategories: CATATAN HARIAN

bilangiklan FINAL

September 29, 2009 · Leave a Comment

Setelah 2 bulan lebih ktemuan sama om2 asik, akhirnya selesai projek satu ini, lega rasanya…

projek corporate identity ini memang melelahkan, tp terus terang, gw dan tim gw enjoy bgt jalaninnya, apalagi pas pihak klien merasa puas..

dari mulai logo, konfigurasinya, stationary, company profile, ampe website prosesnya lumayan panjang, walaupun outputnya cuma 1 keping CD.

preview web bilangiklan

www.bilangiklan.com

→ Leave a CommentCategories: HOPEPLUS

Apakah saya benar-benar butuh ini?

August 15, 2009 · Leave a Comment

Dalam beberapa hari ini saya bertemu dengan orang-orang yang bercerita mengenai keadaan masyarakat indonesia, atau yang sering disebut oleh mereka “pasar”. Menurut salah satu tokoh yg saya kagumi, pasar kita saat ini jika dikomikkan seperti gambar kepala yg mulutnya sedang terbuka lebar dan mengarah keatas, yang menandakan siap menerima apapun makanan yang masuk, bahkan kata menagih/addict lebih cocok. Menurut salah satu rekan saya, bahwa salah kaprah jika perekonomian indonesia harus mengikuti pasar saat ini, karena pasar yang terjadi sekarang adalah pasar yang serakah, pasar yang tidak bisa menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Mungkin pemerintah sekali-kali harus mencoba mengerem gadget yang saat ini peredarannya semakin banyak di masyarakat, jika diibaratkan pemerintah adalah orang tua, dan masyarakat adalah anaknya, maka si ayah menahan beberapa barang milik anaknya, dan menanyakan ke anaknya, “nak, apakah kamu butuh ini? kalo ini? nah yang ini? Dari pertanyaan tersebut si anak akan lebih berpikir bahwa barang yang ia miliki apakah benar-benar penting atau tidak.

Dari gambaran cerita diatas saya ingat kata-kata dari teman saya yang berprofesi sebagai motivator, ia menulis “jangan menilai orang dari yang ia miliki, melainkan apa yang ia cita-citakan” hal tersebut sangat berhubungan dengan pasar, seperti yang telah disebutkan diatas, pasar saat ini lebih memperhatikan dengan kata “memiliki”, ia memiliki HP canggih ini, ia memiliki mobil bagus ini, ia memiliki pacar cantik ini, dimana semakin banyak kata memiliki, maka semakin hebat orang tersebut. Padahal belum tentu orang yg tidak memiliki material (seperti yang telah disebutkan) ia bukanlah orang hebat. Bisa saja orang tersebut mempunyai cita-cita yang luhur, dan ia telah banyak berjasa terhadap masyarakat sekitarnya.

Saya setuju dengan pendapat teman saya yang berprofesi sebagai motivator tersebut, namun ada yang perlu ditambahkan sedikit, “janganlah menilai seseorang dari apa yang telah ia miliki, melainkan dari cita-citanya, hal yang pernah dilakukannya, dan apa yang ia percayai”. Jika masyarakat Indonesia mampu mempunyai mind set seperti itu, saya yakin negara ini akan terangkat dari krisis perekonomian seperti sekarang ini, dan yang pasar kita akan lebih produktif dan terdidik.

“janganlah menilai seseorang dari apa yang telah ia miliki, melainkan dari apa cita-citanya, hal yang pernah dilakukannya, dan apa yang ia percaya”

Bagaimana langkah kongkret untuk merubahnya? tentu tidak bisa dilakukan secara parsial, harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait, baik itu pemerintah, perusahaan swasta, NGO, maupun masyarakat itu sendiri. Jika saya pribadi memulainya dengan sesering mungkin menanyakan kepada diri saya sendiri ketika melihat langsung atau melalui media disekitar saya mengenai barang/material yang menarik bagi saya, apakah saya benar-benar butuh ini? dan apa yang harus saya lakukan saat ini untuk masyarakat di sekitar saya?

mmm… produktif atau konsumtif?

terserah anda,

thanksb4,

——————————————–
CHANDRAHOPEPLUS
Telp: 021-99147308
Email: Chandra.marwanto@hope-plus.com
FB/YM: chany_simply@yahoo.com
————————————————–
HOPEOFFICE
Jl. Jaha, No. 6A,
Kramat-Cilandak Timur 12560
Jakarta Selatan-Indonesia
Telp: 021-7816914
Fax: 021 7816914
www.hope-plus.com
——————————————–

→ Leave a CommentCategories: CATATAN HARIAN